Bunuh diri merupakan cara yang dilakukan seseorang untuk mengakhiri hidupnya. Mereka yang memutuskan untuk bunuh diri, melakukannya dengan cara menggantung diri, minum obat-obatan melebihi dosis, menenggak cairan beracun, atau menggunakan senjata. Pria berusia 40an hingga 50an memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Tapi, tahu kah anda kalau bunuh diri juga faktor dari genetik? Wah, bagaimana bisa jika bunuh diri dikatakan sebagai faktor genetik? Saat ini tak sedikit orang yang mati karena bunuh diri. Tak hanya di alami oleh orang biasa, tetapi bunuh diri juga di alami sebagian artis besar, orang penting negara dan ilmuwan sekali pun. Alasan yang sering kali dipakai oleh orang bunuh diri adalah “depresi”. Ya, depresi sering kali membuat orang merunggut nyawa nya. Lalu, benarkah bahwa bunuh diri adalah faktor genetik?

Sejarah Bunuh Diri

Dalam sejarah Athena kuno, orang yang melakukan bunuh diri tanpa persetujuan negara ditolak untuk dimakamkan secara wajar dengan penghormatan. Orang tersebut akan dimakamkan sendirian, di pinggiran kota, tanpa nisan atau tanda. Dalam sejarah Yunani Kuno dan Roma bunuh diri itu dianggap metode yang dapat diterima saat mengalami kalah perang. Di Roma kuno, bunuh diri pada awalnya diizinkan, tetapi kemudian hal tersebut dianggap sebagai kejahatan terhadap negara karena menimbulkan biaya.

Peraturan pidana yang dikeluarkan oleh Raja Louis XIV dari Prancis pada tahun 1670 jauh lebih berat hukumannya: tubuh orang yang meninggal diseret melintasi jalan-jalan, dalam kondisi tertelungkup, dan kemudian digantung atau dibuang di tumpukan sampah. Selain itu, semua harta orang tersebut disita. Dalam sejarah gereja Kristen, orang yang mencoba bunuh diri dikucilkan dan mereka yang meninggal karena bunuh diri dimakamkan di luar kuburan suci.

Pada akhir abad ke-19 di Inggris, mencoba bunuh diri itu dianggap sama dengan percobaan pembunuhan dan bisa dihukum gantung. Di Eropa pada abad ke-19, tindakan bunuh diri mengalami pergeseran pandangan dari sebelumnya sebagai tindakan akibat dosa menjadi akibat gila.

Sejumlah pertanyaan diajukan dalam filosofi bunuh diri, termasuk apa yang termasuk dalam kategori bunuh diri, apakah bunuh diri bisa menjadi pilihan yang rasional atau tidak, dan kebolehan secara moral untuk bunuh diri. Argumen filosofis terkait apakah bunuh diri bisa diterima secara moral atau tidak berkisar dari oposisi yang kuat, (melihat bunuh diri sebagai tindakan tidak etis dan tidak bermoral), hingga persepsi bahwa bunuh diri sebagai hak sakral bagi siapa saja (bahkan bagi orang yang masih muda dan sehat) yang merasa yakin bahwa mereka secara rasional dan sadar dapat mengambil keputusan untuk mengakhiri hidup mereka sendiri.

Faktor Bunuh Diri

Bunuh diri dapat memengaruhi siapa saja, namun ada beberapa karakteristik dan kondisi yang meningkatkan risiko tersebut. Akan tetapi, seseorang mungkin lebih cenderung mencoba untuk bunuh diri jika memiliki gangguan mental. Sekitar 90 persen orang yang melakukan bunuh diri mengalami masalah psikologis pada saat kematian mereka.

Berikut adalah beberapa kondisi yang dapat memicu terjadinya bunuh diri, di antaranya:

  • Gangguan bipolar

Orang yang memiliki gangguan bipolar akan mengalami perubahan mood yang sangat drastis. Yang tadinya merasa sangat gembira dan bersemangat, mendadak bisa berubah menjadi sedih, tidak bersemangat, dan bahkan depresi. Kalangan ini memiliki risiko 20 kali lebih tinggi untuk melakukan percobaan bunuh diri, jika dibandingkan dengan orang normal. Diperkirakan, satu dari tiga orang dengan gangguan bipolar akan mencoba bunuh diri setidaknya satu kali selama hidupnya. Penderita gangguan bipolar yang juga memiliki masalah kecemasan memiliki risiko mencoba bunuh diri yang lebih tinggi.

  • Depresi berat

Ciri-ciri orang yang mengalami depresi berat adalah merasa putus asa, suasana hati yang buruk, merasa lelah, atau kehilangan minat dan motivasi dalam hidup. Ciri-ciri semacam ini dapat memberi dampak buruk bagi kehidupan orang tersebut secara menyeluruh. Pada akhirnya, hal ini dapat memicu mereka untuk lebih mungkin mencoba untuk bunuh diri.

  • Anoreksia Nervosa

Menjauhi makanan sebisa mungkin dan selalu berbohong bahwa mereka tidak lapar atau sudah makan, itulah tanda-tanda pengidap anoreksia nervosa. Penderita gangguan makan ini merasa dirinya gemuk, sehingga membuat mereka terus-menerus menurunkan berat badan. Mereka benar-benar mengendalikan dan membatasi apa yang mereka makan. Diperkirakan 1 dari 5 pengidap anoreksia nervosa akan melakukan percobaan bunuh diri setidaknya sekali selama hidupnya. Angka kematian karena bunuh diri cukup tinggi pada pada penderita gangguan makan ini, terlebih pada remaja wanita.

  • Gangguan Kepribadian Ambang

Gangguan ini disebut juga borderline personality disorder (BPD). Tanda utama seseorang memiliki gangguan kepribadian ambang adalah sering menyakiti diri sendiri. Tanda lainnya adalah emosi yang tidak stabil dan terkadang kesulitan dalam bersosialisasi. Kalangan ini cenderung memiliki riwayat pelecehan seksual pada masa kecilnya dan memiliki risiko lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri. Diperkirakan lebih dari setengah orang-orang dengan gangguan ini akan melakukan percobaan bunuh diri setidaknya sekali selama hidupnya.

  • Skizofrenia

Sering berhalusinasi, perubahan perilaku atau percaya kepada hal-hal yang tidak benar adalah tanda-tanda orang dengan skizofrenia. Diperkirakan, 1 dari 20 orang dengan skizofrenia akan mencoba untuk bunuh diri.

Selain kondisi mental di atas, faktor lain yang bisa juga memicu seseorang bunuh diri adalah:

  • Pernah mengalami pelecehan seksual.
  • Faktor sosial dan ekonomi, seperti: kehilangan pekerjaan atau memiliki hutang.
  • Memiliki orientasi seksual tertentu seperti gay, lesbian, atau transgender.
  • Tahanan penjara atau seseorang yang baru bebas dari penjara juga bisa memiliki keinginan untuk bunuh diri.
  • Menjadi korban bullying.
  • Kualitas tidur yang buruk dan kurang tidur juga dikaitkan dengan peningkatan risiko bunuh diri pada kelompok lanjut usia. Lansia yang mengalami kurang tidur memiliki peningkatan risiko bunuh diri.

Benarkah Bunuh Diri Faktor Genetik?

Ternyata, memang benar bahwa faktor genetik yang berjalan di dalam sebuah keluarga bisa menjadi salah satu penyebab munculnya tindakan bunuh diri, atau minimal keinginan dan juga percobaan bunuh diri pada diri seseorang. Beberapa penelitian mengenai mereka yang pernah melakukan tindakan bunuh diri, ternyata memberikan fakta bahwa riwayat bunuh diri di dalam keluarga ditemukan memiliki makna yang lebih banyak pada mereka yang melakukan bunuh diri atau percobaan bunuh diri.

Penelitian lainnya juga mengatakan bahwa resiko bunuh diri untuk saudara derajat pertama yang memiliki riwayat bunuh diri adalah 8 kali lebih besar muncul dibandingkan mereka yang tidak memiliki anggota keluarga dengan riwayat bunuh diri.

Hal ini bisa terjadi karena ada kemungkinan role model memiliki dampak yang penting. Anggota keluarga yang sebelumnya pernah melakukan bunuh diri atau percobaan bunuh diri bisa saja menjadi role model, dan dicontoh oleh anggota keluarga mereka yang lainnya. Selain dapat menjadi faktor yang berdiri sendiri (tanpa adanya gangguan psikologis khusus), masalah bunuh diri secara gentika juga bisa muncul akibat adanya gangguan psikologis berat yang bisa diturunkan secara genetik.

Gangguan psikologis berat, seperti misalnya skizofrenia dan juga gangguan bipolar adalah dua dari beberapa macam gangguan psikologis yang memunculkan ide bunuh diri (suicide idea).

Apakah Bunuh Diri Bisa Menular?

Sebuah penelitian dari National Health Institute of Mental Health menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal bersama orangtua yang depresi berisiko hingga tiga kali lipat lebih tinggi untuk “tertular” depresi dan dua hingga enam kali lipat lebih rentan untuk mengembangkan ketergantungan pada alkohol dan obat-obatan terlarang.

Rasa duka yang tak kunjung mereda setelah ditinggal bunuh diri seseorang yang Anda cintai juga dapat meningkatkan risiko Anda mengalami depresi dan ketergantungan alkohol dan/atau obat-obatan sebagai cara pelampiasan kesedihan. Depresi dan penyalahgunaan zat adalah faktor risiko terbesar yang mendorong keinginan bunuh diri.

Ambil contoh kasus bunuh diri Chester Bennington dan Chris Cornell. Kedua sosok pemusik ini sebetulnya sudah sejak lama berjibaku dengan gangguan mental yang diidap masing-masing. Chester Bennington sejak lama diketahui berjuang dengan depresi dan ketergantungan narkoba dan/atau alkohol. Sementara itu, Chris Cornell diketahui mengidap gangguan kecemasan yang disertai dengan penyalahgunaan obat.

Tindak bunuh diri Chester Bennington memang didasari oleh gangguan depresi yang telah menggerogotinya selama bertahun-tahun. Begitu pula dengan Chris Cornell. Namun, tindak bunuh diri Chester diduga kuat juga didorong oleh rasa duka ditinggal oleh sahabat, serta tak hentinya paparan media massa yang memberitakan kasus bunuh diri sang vokalis Soundgarden. Kematian Cornell dipercaya kuat memengaruhi Chester untuk ikut mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama persis: gantung diri.

Cara untuk Mencegah Penularan Bunuh Diri

Paparan berlanjut terhadap perilaku atau tindakan bunuh diri yang ditunjukkan seseorang dapat meningkatkan risiko orang lain di sekitarnya yang susah rentan, untuk terpengaruh hal yang sama. Misalnya, dengan menonton atau membaca hal-hal yang terkait dengan aksi bunuh diri, merawat dan tinggal bersama seseorang yang depresi kronis/berat, atau terlebih menyaksikan tindakan bunuh diri tersebut (baik secara langsung maupun lewat media massa).

Remaja adalah kelompok yang paling rentan terhadap penularan bunuh diri melalui media. Risiko penularan bunuh diri melalui media bisa diminimalkan dengan pelaporan berita yang singkat. Pemberitaan yang berkepanjangan dan berulang-ulang bisa meningkatkan frekuensi paparan mereka terhadap pemicu bunuh diri.

Pemberitaan media massa seharusnya tidak boleh membocorkan deskripsi rinci tentang metode bunuh diri karena membuka kemungkinan untuk ditiru. Pemberitaan tentang kasus bunuh diri juga harus dilengkapi dengan informasi bagaimana bunuh diri bisa dicegah.

Related Posts