Masyarakat luas memandang arsitektur sebagai sesuatu yang berkaitan dengan penciptaan (kreasi) serta teknik mendirikan bangunan gedung atau tempat kegiatan manusia. Pada proses penciptaan arsitektur terdapat tiga aspek utama yang mesti dipenuhi yaitu, aspek kegunaan, fungsi, aspek kekuatan, kekokohan serta aspek estetika (keindahan) bangunan.

Bagi masyarakat luas, bangunan sebagai karya arsitektur setidaknya memenuhi tujuan yakni, nyaman untuk dihuni, aman selamat untuk digunakan dan indah atau estetis dari segi penampilan. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan Arsitektur?berikut penjelasannya

Apa Itu Arsitektur?

Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lanskap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.

Definisi arsitektur secara umum adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok individu untuk membuat rancangan dengan berdasarkan kreatifitas dan gagasannya sendiri. Oleh karenanya, wajar saja apabila pekerjaan arsitektur ini dikategorikan ke dalam seni. Karena proses pengerjaan memang membutuhkan daya imajinasi yang sangat tinggi, guna menghasilkan bentuk yang bagus.

Asal kata arsitektur dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa latin architectura yang secara etimologi berasal dari bahasa yunani kuno arkhitekton, yang secara harfiah berarti pembangunan utama (chief builder). Arsitektur umumnya dimengerti sebagai suatu ilmu atau studi merancang bangunan. Arsitektur adalah sistem mendirikan bangunan termasuk proses perancangan, konstruksi, struktur dan juga mencakup aspek dekorasi dan keindahannya.

Sebagai karya seni, arsitektur mempunyai arti yang lebih dalam dari sekedar usaha pemenuhan persyaratan fungsional semata-mata dalam sebuah program bangunan. Lebih mendasar lagi, merupakan perwujudan fisik dari arsitektur sebagai wadah kegiatan manusia.

Arsitektur hampir selalu identik dengan aktivitas membangun (konstruksi) dan membangun berarti menambahkan sesuatu. Meskipun pengertian awal dari kata arsitektur sesungguhnya tidak terbatas hanya pada membangun atau merancang konstruksi bangunan.

Arsitektur pada dasarnya menceritakan bagaimana bentuk konstruksi sebuah sistem, bagaimana setiap komponen sistem di susun dan bagaimana semua aturan dan interface (penghubung sistem). Arsitektur (ilmu atau studi merancang bangunan) digunakan untuk mengitregasikan seluruh komponen yang ada tersebut, entah itu berupa bangunan gedung, karya seni, pendidikan, teknologi terapan (misalkan komputer dan jaringan) dan lain sebagainya.

Ilmu pengetahuan terus dikembangkan untuk kesejahteraan semua mahluk hidup, termasuk ilmu arsitektur. Seiring berputaran waktu, pengertian arsitektur menjadi semakin luas dan kompleks, tidak hanya mencakup ilmu atau studi merancang bangunan. Kata arsitektur sering digunakan oleh disiplin ilmu lain untuk menggambarkan sebuah sistem yang kompleks.

Vitruvius menyatakan bahwa ada dua komponen utama dalam arsitektur yaitu latihan (practice) dan pemikiran (reasoning). Dengan menggabung kedua kemampuan tersebut, seorang arsitek dapat menghasilkan sebuah arsitektur yang baik karena arsitektur merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan alam, budaya, dan kemanusiaan (selain hal-hal teknis teknologinya).

Dengan demikian, arsitek bersama arsitekturnya perlu menempatkan diri dalam konteks persoalan yang dihadapi alam, budaya, dan manusia. Inti dari perkembangan arsitektur ini adalah pengembangan dari sistem statis perancangan ke arah sistem dinamis yang diterapkan melalui proses pemecahan masalah bertahap dan inovatif.

Dalam artian tidak mengulang hal-hal yang sudah diterapkan dalam proses perancangan arsitektur pada abad sebelumnya, dengan maksud memberikan variasi dan posibilitas dalam dunia arsitektur yang lebih terintegrasi.

Arsitektur menurut Vitruvius memiliki 3 unsur, yaitu Keindahan (Estetika), Kekuatan dan Fungsi. Estetika juga menjadi salah satu unsur dari sebuah seni. Namun, yang membedakannya, arsitektur itu mempunyai sebuah fungsi dan kekuatan yang membuat sebuah rancangan arsitektur itu menjadi lebih hidup. Fungsi sudah sangat jelas harus ada karena arsitektur itu akan digunakan oleh manusia atau lainnya.

Lalu, estetika itu tidak akan terbentuk atau ada kalau kita tidak mengetahui maksud atau fungsi dari rancangan arsitektur itu sendiri. Oleh karena itu, kebanyakan rancangan arsitektur yang memiliki bentuk yang aneh-aneh karena mereka punya fungsinya masing-masing. Selain itu, arsitektur bisa dikatakan sebagai seni yang hidup yang tidak terikat oleh aturan. Oleh sebab itu, bentukan-bentukan aneh dapat terbentuk walaupun terlihat sangat mustahil untuk direalisasikan.

Fungsi Arsitektur

Menurut Geoffrey Broadbent, ada beberapa gagasan tentang fungsi konsepnya tentang fungsi arsitektur dikemukakan oleh Broadbent dalam buku “Signs, Symbols, and Architecture”. Broadbent memandang bahwa fungsi arsitektur perlu ditelususri berdasarkan hubungan antara arsitek itu sendiri dengan penikmat (manusia). Adapun fungsi arsitektur yaitu:

  • Artistik Form (Fungsi Bentuk Artistik)

Ini berarti arsitektur dianggap sebagai bentukan seni. Sehingga arsitektur yang fungsional, diartikan sebagai suatu bentukan yang artistik dan memi­liki nilai-nilai keindahan.

  • Container (Fungsi Perwadahan)

Arsitektur yang fungsional, secara fisik adalah suatu yang mampu mewadahi suatu kegiatan atau aktivitas tertentu, sehingga penikmat dapat merasa aman dan nyaman.

  • Climatic Modifier (Fungsi Modifikasi/Kontrol Iklim)

Ini berarti menunjuk bahwa bentukan arsitektur yang fungsional itu diartikan sebagai bangunan yang mampu mengantisipasi, mengontrol dan beradaptasi dengan lingkungan fisiknya, dalam hal ini adalah aspek iklim yang berlaku disekitarnya.

  • Environmental Filter (Fungsi Filter Lingkungan)

Adalah bangunan/arsitektur berfungsi sebagai media filterisasi lingkungan. Bukan hanya lingkungan bersifat fisik, namun juga berupa lingkungan sosial.

  • Behaviour Modifier (Fungsi Pembentuk Perilaku)

Fungsi Pembentuk Perilaku ini diartikan sebagai, setiap olahan dalam suatu bentukan arsitektur pada gilirannya akan mampu memodifikasi, membentuk bahkan memanipulasi tingkah laku seseorang yang secara aktif berinteraksi dengan bentukan arsitektur tersebut.

  • Capital Investment (Fungsi Investasi Modal)

Ini berarti arsitektur juga memiliki semacam tujuan untuk memperoleh manfaat atau nilai tambah tertentu atau keuntungan. Investasi yang dimaksud yaitu sebagai suatu upaya pemanfaatan sumber daya, baik modal uang, alat dan tenaga untuk menghasilkan keuntungan tertentu. Ada 2 jenis keuntungan, yaitu:

  1. Keuntungan Profit.
  2. Keuntungan Benefit.

Perkembangan arsitektur memiliki sejarah yang sangat panjang. Sebab arsitektur hadir sebagai akibat dari kebutuhan manusia akan situasi kondusif, aman dan nyaman. Sejarah ini diawali dari zaman pra sejarah, dimana teknik arsitektur tertua merupakan Stonehegen di daratan Inggris.

Kemudian diikuti perkembangan pada zaman Mesir Kuno yang memiliki ciri khas pendirian bangunan raksasa seperti istana Firaun. Dan terus berkembang ke arah klasik, Byzantine, Romanesque, Gothic, Reneissance, Baroque, Neoclassicism, Art Nouveau, Neo Gothic Arsitektur, Art Deco Arsitektur, Modernist Style hingga Postmodernism yang diterapkan pada saat ini.

Contoh Seni Arsitektur di Indonesia

Arsitektur di Indonesia sendiri dipengaruhi oleh keanekaragaman budaya, sejarah, geografi Indonesia sendiri. Para pedangang luar negeri dan penjajahan yang dialami Indonesia turut mempengaruhi kerasitekturan di negara kepulauan ini.

Sejumlah budaya luar seperti India, Tiongkok dan Arab turut mempengaruhi arsitektur Indonesia. Pengaruh Eropa juga turut ikut andil dalam mepengaruhi seni merancang bangunan di Indonesia. Untuk selanjtnya, berikut disajikan beberapa contoh bangunan arsitektur di indonesia.

  • Museum Tsunami Aceh

Museum ini dibangun untuk memperingati persitiwa tsunami Aceh pada 2004 silam. Selain itu, museum ini juga didirikan sebagai pusat pendidikan sekaligus tempat pengungsian jika tsunami terjadi lagi. Bangunan seluas 2.500 m² ini memiliki dinding lengkung yang ditutupi oleh relief geometris. Di dalamnya terdapat lorong sempit dan gelap diantara dua dinding air yang tinggi.

Lorong tersebut dibuat agar pengunjung bisa merasakan suasana dan kepanikan saat tsunami melanda. Dinding museum dihiasi dengan gambar orang-orang yang tengah menari Saman. Tari Saman sendiri merupakan simbol dari kekuatan, kedisiplinan, dan religiusitas suku Aceh. Dinding di ruang terdalam Museum Tsunami Aceh juga dicantumkan nama-nama korban tsunami Aceh, baik yang selamat maupun yang meninggal.

Atap gedung museum dirancang sedemikian rupa hingga berbentuk mirip dengan ombak. Sementara itu, Lantai dasarnya juga didesain sedemikian rupa hingga bentuknya menyerupai atap rumah panggung khas Aceh yang selamat dari terjangan tsunami. Museum ini memamerkan simulasi elektronik peristiwa tsunami Aceh 2004, foto-foto para korban, serta kisah-kisah dari korban yang selamat.

  • Arsitektur Tradisional Bali

Memiliki beberapa konsep-konsep dasar yang mempengaruhi nilai tata ruangnya, antara lain :

  1. Konsep Keseimbangan (keseimbangan unsur semesta, konsep catur lokapala, konsep dewata nawa sanga), konsep ini juga harus menjadi panutan dalam membangun diberbagai tataran arsitektur termasuk keseimbangan dalam berbagai fungsi bangunan.
  2. Konsep Rwa Bhineda (hulu-teben, purusa-pradana) Hulu Teben merupakan dua kutub berkawan dimana hulu bernilai utama dan teben bernilai nista/ kotor. Sedangkan purusa (jantan) pradana(betina) merupakan embryo suatu kehidupan.

Itulah 2 Contoh seni Arsitektur Indonesia, Selain itu masih banyak contoh seni bangungan atau contoh seni arsitektur yang ada di Indonesia. Diantaranya ada rumah adat, monumen, gedung perkantoran, gedung pertunjukan, gereja, mesjid dan lain sebagainya.

Setiap bangunan yang kita kunjungi atau yang kita singgahi sejatinya adalah sebuah karya seni bangunan. Namun, ada yang benar-benar mempertimbangkan segi keindahan dan estetika serta unsur-unsur seninya, adapula yang hanya memperhatikan struktur dan fungsi bangunan.

Arsitektur telah dikenal luas dalam masyarakat Eropa terutama pada masa kerajaan Yunani dan Romawi sebelum masa keemasan (Renaisance) di Eropa. Bahkan jauh sebelum kerajaan Yunani dan Romawi berjaya di Eropa, arsitektur telah dikenal pula di Babilonia, Mesir Kuno, India bahkan di dataran China.

Arsitektur sebagai salah satu ciri kebudayaan manusia, merupakan seni dan teknik bangunan sama halnya dengan seni sastra, seni suara, seni drama, seni tari dan bahasa dapat mencerminkan keadaan suatu kebudayaan masyarakat di lokasi tertentu. Karya-karya arsitektur (yang sebagian besar merupakan bangunan–bangunan monumental) sampai saat ini masih merupakan tanda kebesaran dari cipta dan karsa (kebudayaan) manusia yang pernah ada dalam sejarah perkembangan manusia.

Related Posts